Buletin Tentang Adat by Yondri Firmansyah
Investigator-news.id Jakarta // Keris (Karih) orang Minang itu letaknya di depan, bukan di samping atau di belakang. Ditinjau dari sisi letaknya tentu ada makna yang tersembunyi disana, mengapa letaknya didepan?. Bukankah kalau letaknya di samping atau di belakang, akan menjadikan seseorang itu agak leluasa dalam bergerak. Tetapi nyatanya tidak dan _Karih_ tersebut tetap letaknya didepan.
Pepatah mengatakan "_Patah lidah bakeh kalah, patah karih bakeh mati_"
Begitu yang kita dengar. Orang Minang itu hanya mengangguk & pantang disuruh untuk membungkuk. Jika disuruh atau di paksa membungkuk, keris (karih) mesti dicabut dahulu, kalau tidak dia akan melukai diri sendiri. Dipaksa membungkuk, karih dicabut dan _Patah karih bakeh mati_.
Memang kalau bukan orang Minang tentu agak sulit memaknai atau memahami falsafah ini. Hanya orang Minang yang besar di kampung akan mengerti, itupun bagi mereka yang arif dan bijak dalam memahami kiasan. Di Minang sesuatu itu sering disampaikan dengan kiasan. Sehingga di Minang ada istilah "_kato nan ampek_". Yaitu : _Kato Mandata, Kata Malereng, Kato Mandaki & Kato Manurun_. Kato yang dimaksud disini bukanlah sekedar kata, melainkan rangkaiang kalimat atau ucapan yang disampaikan dalam percakapan. Setiap kiasan memerlukan kejelian dan ketangkasan dalam berfikir, untuk mengambil maksud atau makna yang tersirat didalamnya. Falsafah maupun kiasan-kiasan inilah yang telah membentuk kepribadian atau karakter anak Minang.
Dalam kepemimpinan di Minangkabau kita mengenal konsep "_Tungku tigo sajarangan_". Terdiri dari Pemimpin Adat, Alim Ulama & Cendikiawan/Intelektual. Semuanya, antara yang satu dengan yang lainnya bersinergi dalam memimpin, bagaikan orkestra yang enak didengar dan dinikmati. Walaupun mereka hanya didulukan salangkah, ditinggikan saranting. Jarak yang tidak begitu jauh antara yang memimpin dengan yang dipimpin. Namun dalam menjalankan fungsinya ada istilah "_Rajo alim Rajo disambah, Rajo zalim Rajo disanggah_". Seorang yang dipimpin tidak harus membungkuk didepan pemimpin (memakai istilah Rajo), melainkan hanya mengangguk. Selama pemimpin itu berada di jalan yang benar (adil) mereka wajib untuk di ikuti. Tapi apabila zalim, tidak memberikan contoh yang baik, tidak menjadi panutan dalam memimpin maka yang dipimpin tidak wajib untuk mengikutinya (Rajo/pemimpin tersebut boleh disanggah). Demikian contoh yg diberikan oleh pendahulu kita. Antara Pemimpin dengan yang dipimpin, tercermin betapa dinamisnya & demokratisnya hidup bermasyarakat di alam Minangkabau. Yang dipimpin tidak harus membungkuk di depan pemimpin.
Banyak sekali kata kiasan yang kita temui, dan kesemuanya itu agar tidak salah, memerlukan kearifan yang bijak untuk mengartikannya.
Duduak surang basampik sampik
Duduak Basamo balapang lapang
Kato surang dibuleti
Kato basamo dipaiyokan
Jalan surang nak dimuko
Jalan baduo nak ditangah
Takuruang nak dilua
Taimpik nak diate.
Takilek ikan dalam lawiek
La tau jantan batinonyo
Di mano aia disauak
Di sinan rantiang di patah
Di mano bumi dipijak
Di sinan langik dijujuang
Sikajuik si bilang bilang
Nan ka tigo si runpun sarai
Hiduik usah mangapalang
Tak kayo barani pakai
Dan banyak lagi kiasan-kiasan baik berupa kalimat, berupa pantun ataupun gurindam.
Begitu para leluhur kita mengajarkan, dengan bijak dan arif dari generasi ke generasi, sehingga terpatri dan akhirnya menjadi bagian dari Budaya. Orang Minang itu harus tau "Kato nan ampek & punya kepribadian tidak membungkuk, hanya mengangguk". Sejalan dengan filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS, SBK)", Syarak mangato, Adat mamakai. Artinya, keduanya antara Syarak & Adat tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat di alam Minangkabau.
Kembali kepada filosofi "Keris (Karih) orang Minang itu letaknya didepan". Digambarkan seorang penjilat sangatlah hina dimata orang Minang. Jika Al-Quran mengutuk si penjilat, begitu juga orang Minang tentu mengutuknya pula.
Karena orang itu sendiri yang telah mencabut kerisnya, dia tidak lagi mengangguk, melainkan mematahkan kerisnya untuk membungkuk demi kepentingan diri. Mati akal, mati rasa dan mati harga diri. Adat dan syarak sudah dibuangnya jauh-jauh dan malu bukan lagi menjadi pakaian diri. Wuallahu alam.
*) Disadur dari berbagai sumber. Kemanggisan, 15 Mei 2026._
Reporter and editor olid bey..
Investigator-news.id
Terimakasih sudah membaca website kami
