Investigator News - Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus melanjutkan
penanganan pascabencana banjir dan longsor di Kabupaten Bolaang Mongondow,
Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur
wilayah Bolaang Mongondow sejak pertengahan Juli 2020 menyebabkan beberapa
oprit jembatan tergerus air area permukiman warga tergenang. Puncaknya hujan
lebat pada 30 Juli 2020 menyebabkan longsor di sejumlah titik jalan nasional
dan 6 jembatan rusak dan hanyut yakni Jembatan Pakuku, Kosio, Sinandaka,
Sinandaka II, Salongo I, dan Salongo III.
Menteri
PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan agar seluruh Balai Kementerian PUPR di
daerah-daerah selalu siap siaga terhadap bencana alam yang bisa terjadi
sewaktu-waktu. "Terlebih saat Pandemi COVID-19, kondisi jalan dan jembatan
harus terus kita jaga agar jalur logistik tidak terputus," kata Menteri
Basuki.
Penanganan
darurat telah dilakukan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XV Manado
Ditjen Bina Marga, Kementerian PUPR dengan mengerahkan alat berat seperti
exavator, buldozer, dump truck untuk membersihkan material longsoran yang
menutup badan jalan sehingga akses jalan yang menguhubungkan antar wilayah
dapat terbuka. Terdapat 38 titik longsor pada badan jalan dan lereng jalan yang
tersebar di lima ruas jalan nasional, yakni Doloduo – Molibagu, Molibagu –
Mamalia, Matali – Torosik, Onggunoi – Pinolosian, dan Naha – Tahuna.
Saat
ini juga telah dilakukan penanganan darurat untuk 6 jembatan yakni : Jembatan
Pakuku yang hanyut terbawa arus dengan membangun jalan dengan pengurugan dan
pemadatan jalan di titik bekas jembatan. Pembukaan akses jalan baru ini untuk
menghubungkan antar wilayah dan desa di Kabupaten Bolaang Mongondow yang sempat
terisolasi. Selanjutnya Jembatan Kosio yang putus diterjang arus Sungai Ongkak
telah dilakukan penyambungan jembatan bailey dengan rangka besi dan papan
lantai. Saat ini Jembatan Kosio sudah dapat dilalui kendaraan roada empat
dengan batas maksimal 6 ton.
Selanjutnya
untuk Jembatan Sinandaka dan Sinandaka II telah selesai dibangun jembatan
darurat dengan rangka besi di sebelah jembatan rusak. Fondasi Jembatan Sinandaka terkikis sehingga
konstruksinya miring. Kegiatan pembangunan jembatan darurat bertujuan untuk
mengembalikan fungsi jalan dan jembatan guna memperlancar transportasi darat
bagi masyarakat dan distribusi logistik khususnya dari dan ke wilayah
Molibagu-Mamalia.
Penangan
darurat Jembatan Salongo I dan Salongo III yang oprit tergerus air telah
dilakukan dengan pemasangan rambu – rambu peringatan (police line), kemudian
pemasangan bronjong pada area pasangan batu oprit yang tergerus, dan melakukan
penimbunan pada badan jalan yang amblas. Dampak dari kerusakan atau gerusan
pada pasangan batu oprit jembatan tersebut adalah terjadinya amblesan pada
badan jalan, sehingga memutus arus lalu lintas dari Desa Salongo dengan Desa
Soguo.
Sumber
Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR


